CONTOH PEMBUATAN MAKALAH PERINSIP EKONOMI ISLAM KELAS 11

CONTOH PEMBUATAN MAKALAH PERINSIP EKONOMI ISLAM KELAS 11 - Hallo sahabat CONTOH MAKALAH KARYA ILMIAH, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul CONTOH PEMBUATAN MAKALAH PERINSIP EKONOMI ISLAM KELAS 11, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Makalah Ekonomi Islam, Artikel Makalah Islami, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : CONTOH PEMBUATAN MAKALAH PERINSIP EKONOMI ISLAM KELAS 11
link : CONTOH PEMBUATAN MAKALAH PERINSIP EKONOMI ISLAM KELAS 11

Baca juga


CONTOH PEMBUATAN MAKALAH PERINSIP EKONOMI ISLAM KELAS 11

Ini merupakan CONTOH PEMBUATAN MAKALAH PERINSIP EKONOMI ISLAM KELAS 11 SMA dan SMK yang bisa digunakan untuk rujukan pembuatan makalah dengan tema dan judul serupa sehingga memudahkan siswa untuk menyusun, contoh ini hanya sebagai pembanding atau bahan materi sehingga penyusun dapat mengembangkan materi sesuai dengan arahan guru pembimbing.

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu

Alhamdulillahirabbialamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul makalah “Prinsip Ekonomi Islam”.

Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tu, guru, dan teman-teman. Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi.

Akhir kata penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.

                                                                                            Watampone, 24 Januari 2017

 

                                                                                                            Penyusun

 

 

 

DAFTAR ISI

Kata Pengantar                                                                                               ii

Daftar Isi                                                                                                         iii

BAB I PENDAHULUAN                                                                             1

            A.Latar Belakang                                                                                1

            B.Rumusan Masalah                                                                           2

BAB II PEMBAHASAN                                                                              3

            A. Pengertian Muamalah                                                                    3

B. Asas Transaksi                                                                                5

             C. Macam-Macam Muamalah                                                            8

BAB III PENUTUP                                                                                       27

            A.Kesimpulan                                                                                     27

            B.Saran                                                                                               28

DAFTAR PUSTAKA                                                                                                29

 

==================================================================

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Allah Swt. menjadikan kita sebagai makhluk sosial, yaitu makhluk yang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tidak bisa dilakukan tanpa bantuan orang lain. Ini artinya kita harus melakukan interaksi atau hubungan dengan sesama. Kita perlu hidup tolong-menolong, tukar-menukar keperluan dalam segala urusan hidup masing-masing, baik dengan jalan jual-beli, sewa-menyewa, pinjam-meminjam, maupun utangpiutang. Termasuk juga dalam kegiatan yang lainnya seperti bercocok tanam atau kegiatan berusaha yang lain. Dengan cara demikian, kehidupan masyarakat menjadi teratur, hubungan yang satu dengan yang lainnya menjadi lebih baik.

Namun demikian, sifat buruk sering kali menghinggapi diri kita. Contohnya tamak. Sifat tamak ini mendorong kita selalu mementingkan diri sendiri dan lupa terhadap kepentingan orang lain, bahkan masyarakat pada umumnya. Inilah yang menjadi kegelisahan kita sehingga kehidupan tidak lagi nyaman dan tenteram. Tamak, bisa mendorong kita untuk mengambil alih hak orang lain. Oleh karena itu, agama memberi peraturan yang sebaik-baiknya tentang bagaimana kita melakukan interaksi dengan manusia yang lainnya.

Hukum yang mengatur hubungan antarsesama manusia ini disebut mu’āmalah. Tujuan diadakannya aturan ini adalah agar tatanan kehidupan masyarakat berjalan dengan baik dan saling menguntungkan. Allah Swt. berfirman:

....... ......

Artinya: “...dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan

dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat....” (Q.S. al- Maidāh/5: 2)

 

Islam adalah agama yang sempurna. Pada bab ini akan dijelaskan mengenai cara Islam dalam mengatur interaksi antar manusia atau mu’amalah. Silakan ikuti penjelasannya di bab ini.

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana pengertian mu’amalah ?

2.      Bagaimana asas transaksi ekonomi Islam ?

3.      Bagaimana macam-macam mu’amalah ?

===================================================================

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Mu’amalah

Menurut bahasa Arab, mu’amalah bermakna attasarruf (pengelolaan), atau al-akhu wa al-’a a’ (mengambil dan memberi atau interaksi timbal balik). Sedangkan menurut istilah ulama fikih, mu’amalah adalah hukum syariat yang mengatur interaksi antara manusia satu dengan manusia yang lain, khususnya yang menyangkut persoalan-persoalan ekonomi. Mu’amalah dari sisi tujuannya dibagi menjadi tiga macam;

1.       Mu’amalah yang ditujukan untuk memiliki atau menguasai harta; misalnya bekerja (ijarah), berburu, hadiah, pemberian negara, dan waris. Mu’amalah semacam ini ditujukan untuk memperoleh atau memiliki harta. Dengan bekerja, seseorang berhak mendapatkan dan memiliki gaji. Dengan waris, seseorang berhak mendapatkan dan memiliki harta waris; begitu pula dengan berburu, pemberian oleh negara, mendapatkan hadiah, seseorang berhak mendapatkan dan memiliki harta.

2.      Mu’amalah yang ditujukan untuk mengembangkan atau mengelola harta kepemilikan, misalnya syirkah dengan berbagai macamnya, pertanian, peternakan, jual beli dengan berbagai macam ragamnya, penyewaan, pembiayaan, dan lain sebagainya. Dengan syirkah, penyewaan, dan pembiayaan, seseorang bisa mengembangkan harta yang dia miliki; begitu pula dengan pertanian, peternakan, dan jual beli, seseorang bisa mengelola dan mengembangkan hartanya, agar berkembang dan bertambah.

3.      Mu’amalah yang ditujukan untuk mendistribusikan harta di tengah-tengah masyarakat; misalnya pemberian subsidi dan transfer kepada rakyat, zakat, sedekah dan infaq. Mu’amalah seperti zakat, sedekah, infaq, pemberian hadiah, ditujukan agar seseorang bisa mendistribusikan harta kekayaan yang ia miliki tanpa harus menarik kompensasi dari orang yang diberinya. Mu’amalah seperti ini memang benar-benar ditujukan untuk meratakan atau mendistribusikan kekayaan di tengah-tengah masyarakat agar tidak terjadi dominasi dan penguasaan harta hanya pada segelintir orang.

Perintah untuk melakukan mu’amalah dengan cara yang baik telah disebutkan di dalam Al-Qur’an dan sunnah. Di dalam Al-Qur’an, Allah Swt berfirman:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”. [QS An-Nis ’ (4): 29]

Firman Allah SWT dalam QS. Al-Maidah ayat 1

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya”. [QS Al-M idah (5): 1]

Sedangkan di dalam sunnah, Nabi Saw bersabda:

 “Janganlah seseorang menawar barang yang telah ditawar oleh saudaranya, dan janganlah seseorang melamar wanita yang telah dilamar oleh saudaranya, kecuali setelah meminta ijin kepadanya terlebih dahulu”. [HR Imam Muslim, dari Abu Hurairah Ra].

B.     Asas Transaksi Ekonomi Islam

Ekonomi adalah bidang studi yang mengkaji bagaimana manusia memproduksi berbagai macam komoditas, untuk kemudian didistribusikan kepada individu atau kelompok yang ada di masyarakat. Kegiatan ekonomi ada tiga macam, produksi, distribusi, dan konsumsi. Namun, yang paling diperhatikan dan dijadikan kajian utama ekonomi adalah produksi dan distribusi. Sebab, kegiatan ekonomi ditujukan agar manusia bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya; dan kebutuhan hidup manusia hanya akan terpenuhi jika ada alat pemuas (barang dan jasa) dan sampainya alat pemuas tersebut kepada individu.

Alat pemuas bisa dijaga ketersediaannya jika di sana ada produksi. Hanya saja, agar alat pemuas tersebut bisa sampai kepada individu-individu yang ada di tengah-tengah masyarakat, harus ada mekanisme distribusi di tengah-tengah mereka. Pasalnya, adanya alat pemuas yang melimpah tidaklah berarti sama sekali, jika tidak terdistribusi di tengah-tengah masyarakat.

Dari uraian di atas dapat dijelaskan bahwa transaksi ekonomi Islam harus berdiri di atas asas-asas di bawah ini:

1.      Transaksi ekonomi yang ada masyarakat harus selalu sejalan dengan syariat Islam. Kegiatan ekonomi yang tidak sejalan dengan syariat Islam dikategorikan sebagai transaksi ekonomi batil dan tidak boleh berkembang di tengah-tengah masyarakat. Kesesuaian transaksi ekonomi dengan hukum syariat mencakup barang yang ditransaksikan, orang yang bertransaksi, dan aqad transaksi.

2.      Seluruh transaksi ekonomi harus ditujukan untuk sebesarbesar kemakmuran masyarakat, bukan ditujukan untuk kemakmuran sekelompok atau individu-individu tertentu di tengah-tengah masyarakat. Allah Swt berfirman, yang artinya: “Supaya harta tidak hanya beredar di antara orang- orang kaya diantara kalian”. [QS Al -Hasyr (59):7].

3.      Transaksi ekonomi harus berlandaskan prinsip keikhlasan dan suka sama suka. Tidak boleh ada pemaksaan, penganiayaan, dan penipuan dalam transaksi ekonomi Islam. Allah Swt berfirman, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”. [QS An- Nis ’ (4):29].

4.      Seluruh transaksi ekonomi harus berdasarkan aqad yang jelas, tidak samar dan kabur. Islam telah melarang jual beli bersyarat, dua aqad dalam satu aqad, spekulasi (garar), dan kecurangan dalam takaran; sebab, transaksi semacam ini tidak jelas, kabur, dan membuka peluang terjadinya penipuan. Selain itu, kejelasan aqad sebelum transaksi dilakukan, akan menutup celah terjadinya perselisihan antara kedua belah pihak yang bertransaksi kelak di kemudian hari. Berkaitan dengan itu, terdapat sabda-sabda Nabi Saw yang artinya:

“Barang siapa yang melakukan aqad salaf pada suatu barang, maka hendaklah ia melakukannya dalam takaran yang telah diketahui dan timbangan yang telah diketahui sampai pada tempo yang telah diketahui”. [HR Imam Bukhari, dari Ibnu Abbas Ra].

“Barangsiapa berjual beli dengan dua aqad jual beli dalam satu aqad jual beli, maka ia berhak mendapatkan kerugian keduanya atau riba.” [HR Abu Dawud, dari Abu Hurairah].

“Janganlah kalian membeli ikan yang berada di dalam air, sesungguhnya yang demikian itu adalah spekulasi (garar)”. [HR Imam Muslim, dari Abu Hurairah].

5.      Seluruh transaksi ekonomi harus terbebas dari riba dengan berbagai macam jenisnya. Mengambil riba termasuk perbuatan haram. Bahkan, sebagian ulama mengkategorikan riba sebagai dosa besar. Larangan riba ditetapkan berdasarkan Al Quran dan Sunnah. Firman Allah Saw, yang artinya: “Dan Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba”. [QS Al-Baqarah (2): 275). Di dalam hadis, Nabi Saw bersabda yang

artinya:

“Riba itu mempunyai 73 pintu, sedang yang paling ringan seperti seorang laki-laki yang menzinai ibunya, dan sejahat-jahatnya riba adalah mengganggu kehormatan seorang Muslim”. [HR Imam Ibnu Majah, dari Abdullah bin Mas’ud]

 

 

C.    Macam-Macam Mu’amalah

Dalam melakukan transaksi ekonomi tidak boleh bertentangan dengan asas yang telah ditetapkan. Pada saat ini bentuk transaksi ekonomi yang berlangsung di tengah masyarakat sangat beragam, mulai jual beli, jasa kredit, pemberian modal usaha, investasi, dan sebagainya. Dalam fikih muamalah, khususnya tentang kajian ekonomi Islam, juga membahas bentuk-bentuk transaksi ini. Berikut ini pembahasannya.

 

1.      Jual Beli

a.      Pengertian Jual Beli

Jual beli dalam bahasa Arab menggunakatan kata al-bay’ yang berarti menjual, mengganti, atau menukar (sesuatu dengan sesuatu yang lain). Dalam fikih muamalah, jual beli diartikan dengan kegiatan tukar-menukar harta dengan harta yang lain dalam bentuk pemindahan milik dan kepemilikan melalui cara tertentu yang bermanfaat.

b.      Dasar Hukum dan Hukum Jual-Beli

Pada masa Rasulullah SAW harga barang itu dibayar dengan mata uang yang terbuat dari emas (dinar) dan mata uang yang terbuat dari perak (dirham). Jual beli sebagai sarana tolong menolong sesama manusia. Di dalam islam mempunyai dasar hukum dari al-qur’an dan hadis.

Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (Qs. Al-Baqarah : 275)

Hadis yang berkaitan dengan jual beli cukup banyak, antara lain rasulullah SAW telah bersabda, “Nabi Muhammad SAW telah melarang jual-beli yang menyandang unsur penipuan.”(H.R Muslim).

Mengacu pada ayat-ayat al-qur’an dan hadis, hukum jual beli adalah mubah (boleh). Namun pada situasi tertentu, hukum jual-beli itu bisa berubah menjadi sunnah, wajib, haram, dan makruh.

a.       Mubah, yaitu kebolehan seseorang untuk melakukan jual beli. Mubah merupakan hukum asal jual beli.

b.      Wajib, yaitu kewajiban seseorang untuk menlakukan jual beli. Contoh : kewajiban seseorang unuk menjual harta orang muflis, yaitu orang yang utangnya lebih banyak daripada hartanya.

c.       Haram, yaitu ketidakbolehan atau larangan bagi seseorang untuk melakukan jual beli. Contoh : menjual rumah untuk berjudi.

d.      Sunah, yaitu anjuan bagi seseorang untuk melakukan jual beli. Contoh : menjual barang kepada kerabat, sahabat, dan kepada orang yang sangat membutuhkan barang tersebut.

c.       Syarat dan Rukun Jual Beli

Syarat adalah hal-hal yang harus ada atau dipenuh sebelum transaksi jual beli.

1.      Syarat Penjual dan Pembeli atau pihak yang bertransaksi (aqid)

a.    Baligh

b.    Berakal

c.    Rusdu (memiliki kemampuan untuk bisa melaksanakan urusan agama dan mengelola keungan dengan baik).

d.    Suka sama suka, yakni atas kehendak sendiri, tanpa paksaan dari orang lain.

2.      Syarat Ijab Kabul

Ijab kabul dapat dilakukan dengan kata-kata penyerahan dan penerimaan atau dapat juga berbentuk tulisan, kwitansi, atau nota dan lan sebagainya. Ijab adalah ucapan penjual kepada pembeli sedangkan kabul adalah ucapan penerimaan dari pembeli.

Ijab kabul saat ini telah mengalami perkembangan. Bahkan, kita bisa memanfaatkan teknologi, seperti ponsel dan internet. Di antara syaratnya, yaitu terjadi kesepakatan antara penjual dan pembeli dengan lafal yang dapat dipahami. Selain itu, juga ada informasi tertentu tentang keadaan barang dengan jelas. Jika pihak pembeli.

3.      Syarat Barang yang Diperjualbelikan atau Ma’qud alaih

a.       Suci

b.      Bermanfaat

c.       Dalam kekuasaan penjual dan pembeli

d.      Dapat diserah terimakan

e.       Barangnya, kadar dan sifat harus diketahui oleh penjual dan pembeli.

4.      Syarat Nilai Tukar

a.       Harga yang disepakati kedua belah pihak harus jelas jumlahnya.

b.      Bisa diserahkan pada waktu akad, sekalipun secara hukum.

c.       Jika jual beli itu dilakukan secara barter (muqayyadah), barang yang dijadikan nilai tukar bukan barang yang diharamkan syara’.

Jual beli baru dianggap absah jika telah memenuhi rukunrukun. Jual beli. Rukun jual beli ada 5, yaitu:

1.       Penjual dan pembeli

2.       Barang yang diperjualbelikan

3.       Harga

4.        Ijab qabul (perkataan serah terima)

d.      Macam-Macam Jual Beli

Jual beli dapat dilihat dari beberapa sudut pandang, antara lain ditinjau dari segi sah atau tidak sah dan terlarang atau tidak terlarang.

1)      Jual beli yang sah dan tidak terlarang yaitu jual beli yang terpenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya.

2)      Jual beli yang terlarang dan tidak sah yaitu jual beli yang salah satu atau seluruh rukunnya tidak terpenuhi atau jual beli itu pada dasar dan sifatnya tidak disyariatkan (disesuaikan dengan ajaran islam). Contoh jual beli jenis ini seperti :

a)      Jual beli sesuatu yang termasuk najis, seperti daging dan bangkai babi.

b)      Jual beli air mani hewan ternak, seperti kambing.

c)      Jual beli anak hewan yang masih berada dalam perut induknya (belum lahir).

d)     Jual beli yang mengandung unsur kecurangan dan penipuan, misalnya mengurangi timbangan (takaran) dan memalsukan kualitas barang yang dijual.

3)      Jual beli yang sah tetapi terlarang (fasid). Ada beberapa contoh jual beli yang hukumnya sah, tidak membatalkan akad jual beli, tetapi dilarang oleh islam karena sebab-sebab lain misalnya :

a)      Merugikan si penjual, si pembel, dan orang lain.

b)      Mempersulit peredaran barang.

c)      Merugikan kepentingan umum.

Contoh jual beli yang sah tetapi terlarang :

a)      Mencegat para pedagang yang akan menjual barang-barangnya ke kota, dan membeli barang-barang mereka dengan harga yang sangat murah. Kemudian menjualnya di kota dengan harga yang tinggi. Jual beli seperti ini dilarang karena akan merugikan para pedagang dari desa, dan juga menyebabkan naiknya harga pasar.

b)      Jual beli dengan maksud untuk ditimbun tertutama terhadap barang vital.

c)      Menjual barang yang akan digunakan oleh pembelinya untuk berbuat maksiat.

d)     Menawar sesuatu barangdengan maksud hanya memengaruhi orang lain agar mau membeli barang yang ditawarnya, sedangkan orang yang menawar barang tersebut adalah teman si penjual. Jual beli seperti ini disebut najsyi.

e)      Monopoli yaitu menimbun barang agar orang lain tidak membeli, walaupun dengan melampaui harga pasaran. Rasulullah SAW melarang jual beli seperti ini, karena akan merugikan kepentingan umum.

f)       Membeli barang yang sudah dibeli orang lain, tetapi masih dalam masa khiyar (memilih).

e.       Khiyar

Di dalam fikih Islam terdapat konsep khiyar. Khiyar ialah hak memilih bagi si penjual dan si pembeli untuk meneruskan jual belinya atau membatalkan karena adanya sesatu hal, misalnya ada cacat pada barang. Hukum islam membolehkan hak khiyar agar tidak terjadi penyesalan bagi penjual maupun pembeli, anatara lain disebabkan merasa tertipu.

Bila terjadi penyesalan dalam jual beli, baik kepada penjual atau pembeli, amka hukumnya sunah untuk membatalkan jual beli dengan cara pembeli menyerahkan barang yang dibelinya kepada penjual dengan ikhlas edangkan penjual menyerahkan uang (nilai tukar barang yang dibeli) kepada pembeli dengan ikhlas pula. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang rela mencabut jual beli terhadap saudaranya, maka Allah pun akan mencabut kerugiannya di hari kiamat.” (H.R Tabrani)

Ada tiga macam khiar, yaitu :

1)      Khiyar majelis adalah pembeli dan boleh memilih meneruskan atau mengurungkan jual beli selama keduanya masih dalam satu tempat.

2)      Khiyar syarat adalah khiyar yang dijadikan syarat pada waktu akad oleh penjual atas pembeli.

3)      Khiyar ‘aibi adalah khiyar dimana pembeli boleh mengembalikan barang yang dibelinya apabila barang itu memiliki cacat yang mengurangi kualitas barang.

 

 

2.      Gadai

a.      Pengertian dan Hukum Gadai

Menurut bahasa Arab, ar-rahn (gadai) bermakna al-aubut (tetap) dan ad-daw m (langgeng/terus menerus). Adapun makna rahn menurut syariat adalah menjadikan harta yang memiliki nilai dalam pandangan syariat sebagai jaminan atas hutang, agar pemilik hutang bisa membayar hutangnya dengan harga dari barang jaminan tersebut jika ia tidak bisa membayar hutangnya tepat pada waktu penunaiannya.

Kebolehan melakukan gadai (ar-rahn) ditetapkan oleh Al- Qur’an dan Sunnah. Allah Swt berfirman yang artinya: “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang)”. [QS Al-Baqarah (2): 283]

Adapun di dalam hadis, Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan sebuah hadis dari ‘Aisyah Ra bahwasanya ia berkata: “Nabi Saw pernah menggadaikan baju besinya di Madinah kepada seorang Yahudi, dan beliau mengambil gandum dari orang tersebut untuk memenuhi kebutuhan keluarga beliau Saw”. [HR Imam Bukhari dan Muslim]

b.      Rukun dan Syarat Rahn (Gadai)

Rahn (gadai) baru dianggap absah jika telah memenuhi rukun-rukun rahn. Rukunnya, yaitu:

1.      Pemberi jaminan (rāhin) dan penerima jaminan (murtahin)

2.      Barang yang digadaikan

3.      Ijab qabul (perkataan serah terima)

 

1)      Syarat-Syarat Pemberi Jaminan Dan Penerima Jaminan

a)      Ar-rāhin dan al-murtahin disyaratkan berakal. Transaksi gadai yang dilakukan oleh orang gila atau orang yang lemah akalnya tidak dianggap absah. Firman Allah Swt,

“Dan janganlah kamu berikan hartamu itu kepada orang yang bodoh dan harta itu dijadikan Allah untukmu sebagai pokok penghidupan”. [QS An-Nis ’ (4): 5]

b)      Melakukan transaksi gadai atas kehendak dan kerelaan dirinya sendiri. Jual beli dianggap tidak sah jika dilakukan dengan paksaan. Sabda Nabi Saw yang artinya: “Sesungguhnya jual beli itu baru dianggap sah jika berdasarkan kerelaan” [HR Ibnu Hibban dan Ibnu Majah]

c)      Keadaan ar-rāhin dan al-murtahin bukanlah orang yang bodoh dalam hal transaksi mu’amalah. Lihat juga firman Allah dalam Surah An-Nis ’ (4):5.

d)     Telah mencapai usia balig. Gadai yang dilakukan oleh anak kecil dianggap tidak sah.

2)      Syarat-syarat Barang dan Harga

a)      Barang yang diperjualbelikan bukan termasuk barang haram dan najis, seperti anjing, babi, khamer, bangkai, darah, berhala, dan lain sebagainya. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan: “Jabir bin’Abdullah Ra mendengar Rasulullah Saw bersabda pada hari penaklukkan kota Makkah, di Makkah, sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan jual beli khamer, bangkai, babi, dan berhala”. [HR Imam Bukhari dan Muslim]

b)      Barang yang diperjualbelikan adalah barang yang memiliki nilai menurut pandangan syariat dan boleh dijual.

c)      Barang yang diperjualbelikan adalah milik sendiri dan di bawah penguasannya. Tidak absah jual beli barang milik orang lain, atau akan dimiliki. Sabda Nabi Saw yang artinya: “Tidak ada talak kecuali pada isteri yang engkau miliki. Tidak ada pembebasan kecuali pada budak yang engkau miliki, dan tidak ada jual beli kecuali pada barang yang engkau miliki”. [HR Imam Abu Dawud].

Nabi Saw melarang seorang Muslim menjual barang yang belum ada di tangannya. Sabda Nabi Saw yang artinya: ”Barangsiapa membeli makanan, maka jangan menjualnya sebelum barang itu kamu ada di tanganmu”. [HR. Imam Ahmad, Baihaqi, dan Ibnu Hibban]

3)      Syarat-syarat Ijab Qabul (Lafaz Serah Terima)

Ijab adalah perkataan dari penjual, misalnya, “Saya jual barang ini dengan harga sekian”; sedangkan qabul adalah perkataan dari pembeli, misalnya, “Saya terima barangnya dengan harga sekian”. Ijab dan qabul harus memenuhi syarat-syarat berikut ini:

a)      Perkataan Ijab dan qabul tidak dianggap sah jika dipisahkan waktu yang lama. Misalnya, ketika ar-râhin sudah menyatakan, “Saya anggunkan barang ini kepadamu”, namun al-murtahin tidak langsung menyahut, tetapi diam saja dalam waktu yang lama, dan tidak menimpali perkataan penjual.

b)      Ijab dan qabul tidak boleh disela dengan perkataan, atau ucapan-ucapan lain, yang bisa merusak keabsahan Ijab dan qabul.

c)      Ijab qabul dianggap tidak absah jika di dalamnya disertai dengan syarat-syarat yang menyebabkan rusaknya aqad gadai tersebut seperti jika penjual mengatakan, “Saya akan menggadaikan barang ini, setelah barang ini saya pakai selama satu bulan”; atau dengan menyertakan persyaratan waktu, seperti jika penjual mengatakan, “Saya gadaikan barang ini setelah seminggu lagi, atau dua bulan lagi”. Ketentuan ini didasarkan hadis Nabi Saw yang artinya: “Tidak halal salaf dan penjualan, serta dua syarat dalam satu jual beli”. [HR Imam Tirmizi]

c.       Ketentuan-ketentuan yang Berhubungan dengan Ar-rahn

Ketentuan-ketentuan yang harus diperhatikan dalam gadai (ar-rahn) adalah sebagai berikut:

a)      Barang yang digadaikan harus diserahterimakan pada saat aqad rahn itu dilangsungkan. Begitu barang diserahkan, maka barang tersebut akan di bawah kekuasaan al-murtahin. Jika barang agunannya adalah barang-barang yang bisa dipindahkan, seperti perhiasan, mobil, sepeda motor, televisi, dan sebagainya, maka serah terima bisa dilakukan dengan cara menyerahkan barang-barang tersebut kepada murtahin. Namun, jika barang agunannya adalah barangbarang yang tidak bisa dipindahkan atau tidak bisa bergerak, seperti rumah, tanah, kebun, dan lain sebagainya, maka serah terima dilakukan dengan sesuatu yang secara syar’i menunjukkan serah terima barang tersebut. Misalnya dengan surat kuasa agunan, dan lain sebagainya.

b)      Dalam kasus jual beli kredit barang, maka barang yang dibeli dengan kredit tersebut tidak boleh dijadikan sebagai agunan. Misalnya, jika seseorang membeli sepeda motor kepada orang lain secara kredit dengan agunan; maka sepeda motor yang dibeli dengan kredit tersebut tidak boleh dijadikan sebagai agunan. Agunan harus diambil dari barang lain, dan tidak boleh dari barang yang dibeli.

c)      Pada masa jahiliyyah, jika ar-r hin tidak mampu membayar hutang atau barang yang dibelinya secara kredit, tepat pada waktunya, maka barang agunan tersebut langsung menjadi milik al-murtahin. Praktik ini diharamkan oleh Nabi Saw. Sabda Nabi Saw yang artinya: “Agunan itu tidak boleh dihalangi dari pemilik yang telah mengagunkannya, dan ia berhak atas kelebihannya, dan wajib menanggung kerugiannya”. [HR Imam Asy Syafi’i, dan Baihaqi].

Atas dasar itu, jika ar-râhin tidak mampu membayar hutangnya, atau tidak mampu membayar harga barang yang dibelinya secara kredit, maka, murtahin berhak menjual barang agunan tersebut. Jika harga barang agunan itu lebih besar daripada hutang ar-r hin, maka kelebihannya harus dikembalikan kepada ar-r hin. Namun, jika harga barang agunan tersebut lebih rendah daripada hutangnya, maka arr hin wajib menutupi kekurangannya.

d)     Setelah serah terima barang agunan berada di bawah kekuasaan al-murtahin. Tetapi, murtahin tidak boleh memanfaatkan barang agunan tersebut. Sebab, barang agunan tersebut pada dasarnya tetaplah milik ar-r hin, sehingga pemanfaatan barang tersebut menjadi milik dari ar-r hin. Oleh karena itu, ar-r hin berhak menyewakan barang agunannya, semisal rumah, kendaraan, atau barang-barang lain yang ia agunkan, kepada orang lain atau kepada al-murtahinAr-r hin juga berhak dan dibolehkan menghadiahkan manfaat barang agunan itu kepada orang lain maupun al-murtahin, selama hal itu tidak mengurangi manfaat barang agunan tersebut.

e)      Jika barang agunan itu dijaminkan oleh ar-r hin pada transaksi hutang piutang (qard), di mana ar-r hin harus mengembalikan hutangnya dengan jenis dan nilai yang sama, seperti pada kasus peminjaman uang Rp.500 juta rupiah yang harus dibayar sebesar Rp.500 juta, atau peminjaman atas beras 50 ton, yang harus dibayar dengan beras 50 ton dan dengan jenis yang sama, maka, almurtahin tidak boleh memanfaatkan barang agunan sedikitpun, walaupun hal itu diijinkan oleh ar-r hin. Sebab, hutang piutang yang menarik suatu manfaat termasuk dalam kategori riba.

f)       Namun jika barang agunan itu dijaminkan oleh ar-r hin pada transaksi hutang atas barang-barang yang tidak memiliki padanan, atau sulit dicarikan padanannya, misalnya hewan, kayu bakar, properti, dan barang sejenis yang hanya bisa dihitung berdasarkan nilainya, maka almurtahin boleh memanfaatkan barang agunan tersebut atas ijin dari ar-r hin.

 

3.      Riba

a.      Pengertian Riba

Secara literal, ar-rib bermakna az-ziy dah (tambahan). Menurut Imam abari dalam kitab tafsirnya, makna asal dari riba adalah az-ziy dah wa al-in fah (tambahan atau kelebihan). Menurut istilah (syariat) para ulama mendefinisikan riba sebagai berikut. Imam IbnuIbnu Al-‘Arabi mendefinisikan riba dengan; semua tambahan yang tidak disertai dengan adanya pertukaran kompensasi.Imam Suyuti dalam Tafsir Jalalain menyatakan, riba adalah tambahan yang dikenakan di dalam mu’amalah, uang, maupun makanan, baik dalam kadar maupun waktunya.Di dalam kitab Al-Mabsu , Imam Sarakhsi menyatakan bahwa riba adalah al-fa lu al-kh li ‘an al-‘iwa al-masyr fi albai’ (kelebihan atau tambahan yang tidak disertai kompensasi yang disyaratkan di dalam jual beli). Di dalam jual beli yang halal terjadi pertukaran antara harta dengan harta. Sedangkan jika di dalam jual beli terdapat tambahan (kelebihan) yang tidak disertai kompensasi, maka hal ini bertentangan dengan perkara yang menjadi konsekuensi sebuah jual beli, dan hal semacam ini haram menurut syariat.

b.      Hukum Riba

Seluruh ulama sepakat mengenai keharaman riba, baik yang dipungut sedikit maupun banyak. Seseorang tidak boleh menguasai harta riba. Harta itu harus dikembalikan kepada pemiliknya, jika pemiliknya sudah diketahui. Dan ia hanya berhak atas pokok hartanya saja. Di dalam Kitab Al-Mugni, Ibnu Qudamah mengatakan, riba diharamkan berdasarkan Kitab, Sunnah, dan Ijma’. Dalil pengharaman riba adalah firman Allah Swt yang

artinya:

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), “Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba,” padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. [QS Al-Baqarah (2): 275].

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa”. [QS Al-Baqarah (2): 276]

Dan masih banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang lainnya yang mengharamkan riba. Sedangkan Sunnah; telah diriwayatkan dari Nabi Saw bahwasanya beliau bersabda, yang artinya: “Jauhilah oleh kalian 7 perkara yang membinasakan”. Para shahabat bertanya, “Apa itu, Ya Rasulullah?”. Rasulullah saw menjawab, “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari peperangan, menuduh wanita-wanita Mukmin yang baik-baik berbuat zina”. Juga didasarkan pada sebua riwayat, bahwa Nabi Saw telah melaknat orang yang memakan riba, wakil, saksi, dan penulisnya”. [HR. Imam Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah].

“Satu dirham riba yang dimakan seseorang, dan dia mengetahui (bahwa itu adalah riba), maka itu lebih berat daripada enam puluh kali zina”. [HR Ahmad dari Abdullah bin Han alah].

 

“Riba itu mempunyai 73 pintu, sedang yang paling ringan seperti seorang laki-laki yang menzinai ibunya, dan sejahat-jahatnya riba adalah mengganggu kehormatan

seorang muslim”. (HR Ibnu Majah dari Abdullah bin Mas’ud).

 

“Rasulullah Saw melaknat orang memakan riba, yang memberi makan riba, penulisnya, dan dua orang saksinya. Beliau bersabda; Mereka semua sama”. [HR Muslim, dari Jabir Ra].

c.       Macam-Macam Riba

1)      Riba fadli (lebih) adalah riba yang disbeabkan penukaran barang sejenis yang tidak sama ukuran atau jumlahnya. Misalnya, satu ekor sapi ditukarkan dengan satu ekor sapi yang besarnya tidak sama.

2)      Riba qardi (utang) adlah riba dalam hal utang. Caranya adalah dengan menarik riba dari orang yang berutang. Misalnya, Irgi bersedia meminjamkan uang sebesar Rp. 1.000.0000,00 kepada Fahrezi dengan syarat Fahrezi harus menambah Rp.100.000,00 saat mengembalikan uang itu kepada Irgi.

3)      Riba nasi’ah adalah riba yang disebabkan penundaan atau peagguhan pembayaran utang. Contohnya adalah seperti pada poin b tadi. Jika Fahrezi tidak dapat mengebalikan uang tepat waktu, ia harus menambah bunga yang dibayarkan kepada Irgi.

4)      Riba yad adalah riba karena  terpisahnya penjual dan pembeli sebelum timbang terima barang dagangan. Misalnya, Anang membeli sekarung gula dari Fauzi. Setelah pembayaran dilakukan, keduanya langsung pergi, sedangkan gula tersebut belum ditimbang dan belum diketahui berapa berat sesungguhnya.

d.      Perbedaan Riba dan Jual Beli

1.      Dalam jual beli, antara pembeli dan penjual sama-sama mendapatkan pertukaran di atas prinsip kesetaraan atau persamaan. Si pembeli mendapatkan keuntungan atau manfaat dari barang yang dibelinya dari penjual, sedangkan penjual mendapatkan keuntungan dari pembeli karena waktu, tenaga, dan pikirannya yang digunakan untuk mendapatkan barang itu demi kepentingan pembeli. Adapun dalam aktivitas riba, tidak akan didapatkan manfaat atau keuntungan yang didasarkan di atas prinsip persamaan tersebut. Pemilik uang atau modal, pasti akan mendapatkan keuntungan karena meminjamkan modalnya, namun, peminjam hanya mendapatkan “jangka waktu” pemanfaatan  atas modal atau uang yang dipinjamnya. Padahal, jangka waktu saja, pasti tidak akan menghasilkan keuntungan bagi peminjam. Jika dalam “jangka waktu yang diberikan oleh peminjam itu”, kemungkinan mendapatkan kerugian sama dengan kemungkinan mendapatkan keuntungan, maka di dalam aqad riba, pasti ada salah satu pihak yang mendapatkan laba (keuntungan), sedangkan pihak lain belum tentu mendapatkannya.

2.      Di dalam perdagangan, bagaimanapun besarnya keuntungan yang diperoleh pemilik barang, ia akan memperolehnyahanya sekali saja; itu pun jika ada kesepakatan antara pemilik dan pembeli barang. Dalam praktek riba, si pemilik barang atau modal senantiasa akan memperoleh bunga uang, selama pinjaman pokoknya belum dilunasi. Bahkan, semakin lama, hutang yang tidak dapat dilunasi akan semakin bertambah, dan menumpuk, hingga menghabiskan seluruh harta kekayaan peminjam.

3.      Dalam jual beli, jerih payah dan pekerjaan seseorang baru akan mendapatkan keuntungan setelah ia mencurahkan tenaga dan pikirannya. Sedangkan dalam praktåk riba, seseorang hanya meminjamkan sejumlah uang yang tidak dipakainya, kemudian uang itu berkembang tanpa harus berjerih dan payah.

 

4.      Utang-Piutang

a.      Pengertian Utang-Piutang

Utang piutang adalah menyerahkan harta dan benda kepada seseorang dengan catatan akan dikembalikan pada waktu kemudian. Tentu saja dengan tidak mengubah keadaannya. Misalnya utang Rp. 100.000,00 di kemudian hari harus melunasinya Rp. 100.0000,00. Memberi utang kepada eseorang berarti menolongnya dan snagat dianjurkan oleh agama.

b.      Rukun Utang-Piutang

1)      Orang yang berpiutang dan yang berutang

2)      Ada harta atau barang

3)      Lafadz kesepakatan. Misal : “Saya utangkan ini kepadamu”. Yang berutang menjawab, “Ya saya utang dulu, beberapa hari lagi (sebutkan dengan jelas) atau jika sudah punya akan saya lunasi”.

Untuk menghindari keributan di belakang hari, Allah SWT. Menyarankan agar kita mencatat dengan baik utang-piutang yang kita lakukan.

Jika orang yang berutang tidak dapat melunasi tepat waktunya karena kesulitan, Allah SWT. Menganjurkan memberinya kelonggaran.

Apabila orang yang membayar tangnya dengan memberikan kelebihan atas kemauannnya sendiri tanpa perjanjian sebelumnya, kelebihan tersebut halal bagi yang berpiutang, dan merupakan suatu kebaikan bagi yangberutang. Rasulullah SAW. Bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik kamu,ialah sebaik-baik ketika membayar utang.” (sepakat ahli hadis) Abu Hurairah berkata, “Rasulullah telah berutang hewan, kemudian beliau bayar dengan hewan yang lebih besar dari hewan yang beliau utang itu.” Dan Rasulullah SAW. Bersabda, “ Orang yang paling baik di antara kamu ialah orang yang dapat membayar utangnya dengan lebih baik.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

 

5.      Ijarah atau Sewa-Menyewa

a.      Pengertian Ijarah

Ijarah disebut juga dengan sewa-menyewa. Secara bahasa, ijarah berarti upah, ganti, atau imbalan. Secara istilah dapat diartikan dengan pemberian imbalan atas pemanfaatan sesuatu benda, kegiatan, atau aktivitas tertentu. Sewa-menyewa ini sangat populer di masyarakat kita dengan jenis barang sewaan yang beragam, bisa tempat tinggal, kendaraan, tempat usaha, dan sebagainya. Dengan menyewakan barang yang dimiliki, penyewa berhak mendapatkan imbalan sejumlah uang dari yang menyewa. Demikian juga yang menyewa, dapat memanfaatkan barang sewaannya.

b.      Rukun dan Syarat Ijarah

Rukun ijarah ada empat, yaitu harus ada yang menyewa, penyewa, barang yang disewakan, dan manfaat. Untuk syarat-syaratnya sebagai berikut.

1)      Penyewa dan orang yang menyewakan harus orang yang berakal, tidak dipaksa, balig, dan tidak boros.

2)      Barang yang disewakan harus jelas jenis, sifat, dan kadarnya.

3)      Untuk syarat manfaat berarti barang tersebut berharga atau bernilai, diberikan oleh penyewa, diketahui kadarnya, dan dengan jangka waktu tertentu. (Sulaiman Rasyid. 1996: halaman 304)

========================================================

 

BAB III

PENUTUP

A.      Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat kami tarik dari pembahasan makalah ini, yaitu :

1.      Muāmalah ialah kegiatan tukar-menukar barang atau sesuatu yang memberi manfaat dengan cara yang ditempuhnya, seperti jual-beli, sewa-menyewa, utang-piutang, pinjam-meminjam, urusan bercocok tanam, berserikat, dan usaha lainnya.

2.      Asas-asas transaksi ekonomi dalam Islam adalah: (1) seluruh traksaksi ekonomi yang ada di tengah-tengah masyarakat harus selalu sejalan dengan syariat Islam; (2) Seluruh transaksi ekonomi harus ditujukan untuk sebesarbesar kemakmuran masyarakat, bukan ditujukan untuk kemakmuran sekelompok atau individu-individu tertentu di tengah-tengah masyarakat; (3) transaksi ekonomi harus berlandaskan prinsip keikhlasan dan suka sama suka. Tidak boleh ada pemaksaan, penganiayaan, dan penipuan dalam transaksi ekonomi Islam; (4) seluruh transaksi ekonomi harus berdasarkan aqad yang jelas, tidak samar dan kabur; (5) Seluruh transaksi ekonomi harus terbebas dari riba dengan berbagai macam jenisnya.

3.      Islam membolehkan umatnya untuk melaksanakan jual beli, gadai, sewa-menyewa, utang piutang, dan sebagainya. Dan mengharamkan perbuatan riba.

4.      Jual beli adalah kegiatan tukar menukar barang dengan barang lain (uang) dengan cara tertentu.  Gadai adalah penyerahan barang yang dilakukan oleh orang yang berutang sebagai jaminan atas hutang yang telah diterimanya. Utang piutang adalah salah satu bentuk kerja sama atau tolong menolong dalam kehidupan manusia. Dan sewa-menyewa adalah imbalan yang harus diterima olehs seseorang atas jasa yang diberikannya. Sedangkan, riba adalah tambahan pembayaran tanpa ada ganti atau imbalan yang disyariatkan bagi salah seorang dari dua orag yang mengadakan transaksi.

B.       Saran

Sebagai umat muslim yang baik, hendaklah menghargai proses dalam bermuamalah secara islami, saling berbagi kebahagiaan dengan cara tolong-menolong, dan membiasakan diri untuk mempraktikkan kegiatan muamalah sesuai dengan syariat islam. Dan selalu berhati-hati dalam melakukan kegiatan muamalah, perhatikan hal-hal yang diharamkan oleh syariat islam seperti kegiatan riba.

=================================================================

 

DAFTAR PUSTAKA

Syafei, Nurdin. 2016. Buku Siswa FIKIH Kelas IX Madarasah Tsanawiyah. Jakarta: Kementerian Agama

_______. 2014. Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Firmansari. 2011. Pendidikan Agama Islam untuk SMA Kelas XI. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan Nasional.

Thoyar, Husni. 2011. Pendidikan Agama Islam untuk SMA Kelas XI. Jakarta : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan Nasional.

Susanti, Evi. 2011. Pendidikan Agama Islam untuk SMA Kelas XI. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan Nasional.


Demikianlah Artikel CONTOH PEMBUATAN MAKALAH PERINSIP EKONOMI ISLAM KELAS 11

Sekianlah artikel CONTOH PEMBUATAN MAKALAH PERINSIP EKONOMI ISLAM KELAS 11 kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel CONTOH PEMBUATAN MAKALAH PERINSIP EKONOMI ISLAM KELAS 11 dengan alamat link http://www.generasikolor.men/2020/11/contoh-pembuatan-makalah-perinsip.html